Memaparkan catatan dengan label sajak. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label sajak. Papar semua catatan

Sabtu, November 01, 2008

Mata Ayah

















Kujabat mesra tangan ayah
Urat-urat daging-daging tua keras terasa
Mataku tersenyum, matanya menyapa
Anak yang pulang disambut mesra.

Tapi matanya, mata yang menatapku
Kolam-kolam derita dan pudar bulan pagi
Garis-garis putih lesu melingkungi hitam-suram
Suatu kelesuan yang tak pernah dipancarkan dulu.

Kelibat senyum matanya masih jua ramah
Akan menutup padaku kelesuan hidup sendiri
Bagai dalam suratnya dengan kata-kata riang
Memintaku pulang menikmati beras baru.

Anak yang pulang disisi ayahnya maka akulah
Merasakan kepedihan yang tercermin di mata
Meski kain pelekatnya bersih dalam kesegaran wuduk
Dan ia tidak pernah merasa, sebab derita itu adalah dia.

Alllahyarham Dato' dr. Usman Awang

Salam Benua















I
mereka memisahkan kita
pasport visa wilayah segala tembok nama
mereka merompak kita dengan undang-undangnya
peluru dikirimkan dalam bungkusan dollarnya
kita dipaksa memilih salah satu
dan kita mesti memilihnya
tiada jalan lain.

II
telah saudara pilih senapang dan peluru
banyak pemimpin memilih dollarnya
untuk itu saudara membasahi baju
rumput-merah sungai-merah
tangis anak-anak
darah rakyat tertindas.

III
saudara memerah kaktus melumat batu
menjadikannya minuman makanan
gadis-gadis bekerja debu pasir dandannya
anak-anak kecil menyandang senapang
saudara menghitam langit menyelubungi
saluran minyak
setengahnya menyanyi di penjara
untuk pembebasan Palestin.

IV
kami bertatih di sawah semakin kering
petani-petani mula menebang hutan dara
permulaan kecil pada ketenangan segumpal awan
ketenangan yang di belakangnya memangkas kami
yang sedikit ini sedang belajar
dari setiap pengalaman saudara
dan pengalaman sendiri
kami memampatkan gerhana bulan mei
pada tujuan tempat
nusantara ini.

V
salam
tanpa visa
pasport
golf
warna
kemanusiaan
seluruh benua.

Alllahyarham Dato' dr. Usman Awang